Setiap kali memasuki bulan Safar, tidak sedikit masyarakat yang masih mengaitkannya dengan berbagai mitos. Ada yang menganggap Safar sebagai bulan penuh kesialan, bulan yang membawa musibah, sehingga sebagian orang menghindari menikah, bepergian, memulai usaha, bahkan enggan mengadakan kegiatan penting pada bulan ini. Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya kita menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah ﷺ sebagai pedoman, bukan kepercayaan turun-temurun yang tidak memiliki dasar dalam syariat.
Mitos Bulan Safar Berasal dari Tradisi Jahiliyah Sebelum Islam datang, masyarakat Arab Jahiliyah meyakini bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Mereka menganggap berbagai musibah dan kesempitan lebih sering terjadi pada bulan tersebut.
Islam kemudian datang untuk meluruskan keyakinan ini. Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada burung hantu pembawa pertanda, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar."
(HR. Al-Bukhari No. 5757 dan Muslim No. 2220)
Hadis ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa Rasulullah ﷺ menolak keyakinan adanya kesialan khusus pada bulan Safar. Semua Bulan Sama Mulianya di Hadapan Allah
Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan..."
(QS. At-Taubah: 36)
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah menetapkan perjalanan waktu dengan hikmah-Nya. Tidak ada satu pun dalil yang menyatakan bahwa Safar adalah bulan pembawa kesialan.
Yang membedakan sebagian bulan hanyalah kemuliaannya, seperti Ramadan atau empat bulan haram. Adapun Safar tidak pernah disebut sebagai bulan sial dalam Al-Qur'an maupun hadis shahih.
Musibah Terjadi Karena Takdir Allah, Bukan Karena Bulan
Sebagian orang masih menghubungkan kegagalan usaha, kecelakaan, atau sakit yang terjadi di bulan Safar sebagai akibat dari bulan tersebut.
Padahal Allah berfirman:
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah."
(QS. At-Taghabun: 11)
Ayat ini mengajarkan bahwa seluruh peristiwa terjadi atas kehendak Allah. Tidak ada bulan, hari, tanggal, benda, atau makhluk yang memiliki kekuatan membawa sial secara mandiri.
Kepercayaan terhadap kesialan waktu dapat mengurangi kesempurnaan tawakal kepada Allah.
Rasulullah ﷺ Tetap Beraktivitas di Bulan Safar
Dalam sejarah Islam, Rasulullah ﷺ tidak pernah menghentikan aktivitasnya ketika memasuki bulan Safar. Beliau tetap melakukan perjalanan, mengirim utusan, memimpin peperangan, dan menjalankan berbagai urusan umat.
Ini menjadi bukti nyata bahwa tidak ada larangan untuk menikah, berdagang, pindah rumah, membuka usaha, ataupun melakukan aktivitas kebaikan di bulan Safar.
Yang Perlu Ditingkatkan Justru Amal Saleh
Alih-alih disibukkan oleh rasa takut terhadap mitos, bulan Safar justru menjadi kesempatan untuk memperbanyak amal kebaikan.
Beberapa amalan yang dapat dilakukan antara lain:
Memperbanyak salat sunnah dan doa.
Memperbanyak istighfar dan zikir.
Bersedekah kepada fakir miskin, anak yatim, dan kaum dhuafa.
Membaca Al-Qur'an serta memperbaiki hubungan dengan sesama.
Memperkuat tawakal kepada Allah dalam setiap urusan.
Perlu dipahami, sedekah bukan dilakukan karena takut kesialan bulan Safar, tetapi sebagai bentuk ibadah yang dianjurkan kapan pun sepanjang tahun.
Menjauhi Tathayyur (Anggapan Sial)
Islam sangat melarang tathayyur, yaitu merasa sial karena waktu, tempat, atau sesuatu yang sebenarnya tidak memiliki pengaruh apa pun.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Thiyarah (merasa sial) adalah syirik."
(HR. Abu Dawud No. 3910 dan At-Tirmidzi No. 1614, dinilai shahih oleh Al-Albani)
Hadis ini menjadi peringatan agar seorang muslim tidak menggantungkan keyakinannya kepada mitos, melainkan hanya kepada Allah.
Jadikan Safar sebagai Bulan Penuh Harapan
Bulan Safar bukanlah bulan untuk dipenuhi rasa takut. Sebaliknya, ia adalah salah satu dari dua belas bulan yang Allah ciptakan sebagai kesempatan memperbanyak amal saleh.
Seorang mukmin tidak diukur dari keberaniannya menghadapi mitos, tetapi dari kekuatan imannya kepada Allah. Ketika hati dipenuhi tawakal, maka tidak ada ruang bagi ketakutan terhadap sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Mari memasuki bulan Safar dengan optimisme, memperbanyak ibadah, memperluas manfaat bagi sesama, dan menguatkan keyakinan bahwa segala kebaikan maupun ujian datang semata atas kehendak Allah.
"Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya."
(QS. At-Talaq: 3)
Penutup
Mari jadikan bulan Safar sebagai momentum memperbanyak kepedulian. Tidak ada bulan yang membawa kesialan bagi orang yang beriman. Yang ada adalah kesempatan untuk menanam amal, memperkuat tawakal, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Semoga Allah menjauhkan kita dari keyakinan yang tidak berdasar dan meneguhkan hati kita di atas Al-Qur'an dan Sunnah. Aamiin.

Comments are closed.